Tuesday, March 29, 2016

Definisi ASI Eksklusif dan persentase bayi yang telah diberi ASI Eksklusif

ASI Eksklusif sehat untuk Bayi
Bayi usia 0-6 bulan dapat tumbuh dan berkembang secara optimal hanya dengan mengandalkan asupan gizi dari Air Susu Ibu (ASI). ASI adalah nutrisi alamiah terbaik bagi bayi dengan kandungan gizi paling sesuai untuk pertumbuhan optimal, sebab ASI mengandung semua nutrisi yang diperlukan untuk bertahan hidup pada 6 bulan pertama, yang meliputi hormon, antibodi, faktor kekebalan, dan antioksidan (Prasetyono, 2009). Keunggulan kandungan ASI yang berperan dalam pertumbuhan bayi yaitu protein, lemak, elektrolit, enzim dan hormon (Evawany, 2005).

Pemberian ASI selama 6 bulan tanpa dicampur dengan tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi tim disebut sebagai ASI Eksklusif (Maryunani, 2009). Depkes RI (2007) mendefenisikan ASI Eksklusif adalah pemberian hanya ASI saja, segera setelah bayi lahir sampai umur 6 bulan tanpa makanan atau cairan lain termasuk air putih, kecuali obat dan vitamin. Pemberian ASI Eksklusif berlandaskan keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.450/MenKes/SK/IV/2004 tanggal 7 April 2004 yang mendukung pencapaian pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan optimal bayi.

Setelah usia 6 bulan, disamping ASI dapat pula diberikan makanan tambahan (MP-ASI, Makanan Pendamping ASI), namun pemberiannya harus diberikan secara tepat meliputi kapan memulai pemberian, apa yang harus diberikan, berapa jumlah yang diberikan dan frekuensi pemberian untuk menjaga kesehatan bayi (Rosidah, 2008). Pemberian makanan tambahan harus disesuaikan dengan maturitas saluran pencernaan bayi dan kebutuhannya (Narendra dkk, 2008).

Namun kebanyakan ibu sudah memberikan MP-ASI kepada bayinya sebelum berusia 6 bulan. Hal ini dapat kita lihat dari rendahnya pencapaian ASI Eksklusif di Indonesia yaitu bayi yang mendapat ASI eksklusif sampai usia 5 bulan hanya 14% dan 8% sampai usia 6 bulan (Depkes, 2004).

Menurut Profil Kesehatan Kabupaten/Kota dalam SubdisKesga Dinkes ProvSU (2008), cakupan persentase bayi yang diberi ASI Eksklusif dari tahun 2004-2007 cenderung menurun secara signifikan (42,6%- 26,39%), namun pada tahun 2008 (36,72%) ada peningkatan yang cukup berarti yaitu sebesar 10,33% dibandingkan tahun 2007. Sementara pemberian MP-ASI pada bayi cenderung mengalami peningkatan yaitu 34,44% tahun 2006 meningkat menjadi 68,8% tahun 2007, tahun 2008 mencapai 73,5%, tahun 2009 sangat rendah dengan pencapaian hanya sebesar 1,32% (212 bayi dari 15.969 populasi bayi) dan tahun 2010 pemberian ASI Eksklusif hanya mencapai 1,18% (190 bayi dari 16.000 populasi bayi) (Januari-Agustus 2010) (Dinkes Medan, 2010).

Berdasarkan hasil survey awal, daerah yang menunjukkan angka pemberian ASI Eksklusif tertinggi untuk tahun 2010 di Kota Medan yaitu puskesmas Medan Deli Kecamatan Medan Deli sebanyak 21 bayi, Medan Polonia 9 bayi, Medan Labuhan 6 bayi, dan daerah yang menunjukkan pemberian ASI eksklusif rendah yaitu kecamatan Medan Barat 2 bayi, Medan Baru 1 bayi bahkan banyak daerah dengan angka pemberian ASI Eksklusifnya 0 (tidak ada) seperti kecamatan Medan Petisah (Dinkes Medan, 2010). Rendahnya pencapaian ASI-Eksklusif ini disebabkan karena adanya anggapan ibu-ibu bahwa bayi yang diberi MP-ASI akan lebih sehat karena berat badan yang lebih gemuk (Renata, 2009).

Reactions:

0 comments:

Post a Comment